Sekilas tentang Pemilu Uganda 2016

Home / Research & Publications / Sekilas tentang Pemilu Uganda 2016

Sekilas tentang Pemilu Uganda 2016

Irhamna, Peneliti pada Center for Election and Political Party FISIP UI

Dalam data yang dirilis oleh Freedom House tentang Freedom in the World 2016, Uganda adalah negara sub-Sahara yang mendapatkan skor sebesar 36 dalam indeks kebebasan[1]. Skor tersebut menggolongkan Uganda sebagai negara yang tidak bebas baik dalam segi hak-hak politik maupun kebebasan sipil. Meskipun demikian, pada 18 Februari 2016 yang lalu, negara yang pernah dikuasai oleh Diktator Idi Amin, menyelenggarakan Pemilihan Umum yang akan memilih Presiden dan Anggota Parlemen Uganda. Sejarah Uganda adalah sejarah yang pilu tentang kudeta dan pembunuhan massal, pada masa Idi Amin dan penerusnya Milton Obote misalnya terdapat hampir 500.000 korban jiwa melalui rangkaian serangan oleh militer[2].

Parlemen Uganda menganut sistem unikameral dengan total anggota Parlemen sebanyak 290 orang. Anggota Parlemen dipilih secara langsung dengan sistem mayoritarian dari 290 daerah pemilihan. Hal yang menarik dari Pemilu di Uganda adalah mereka memiliki perwakilan khusus bagi perempuan. Terdapat 112 kursi yang dialokasikan untuk perempuan untuk setiap distrik dengan jumlah masing-masing satu kursi. Sementara itu, untuk pemilihan Presiden, mekanisme yang dipakai adalah popular vote dengan syarat kemenangan minimal 50 persen (IFES 2016: 4). Hampir sama dengan syarat yang digunakan di setiap negara bahwa setiap suara dinilai sama (one person, one vote, one value). Meskipun setiap warga negara Uganda dijamin hak pilihnya oleh Konstitusi, para narapidana di Uganda tidak dapat menggunakan hak pilihnya, dan untuk Pemilu 2016 ini terdapat sekitar 28.844 orang narapiadana yang tidak bisa melaksanakan hak konstitusionalnya. Hal ini kemudian menjadi sorotan berbagai organisasi internasional yang menaruh perhatian pada isu-isu kemanusiaan dan hak azasi manusia (IFES 2016: 5).

Setelah hampir 30 tahun menjabat sebagai Presiden, Yoweri Museveni kembali mencalonkan diri pada Pemilu Uganda 2016 dari Partai National Resistance Movement (NRM). Pemilu kali ini diikuti oleh delapan orang calon, dan satu diantaranya adalah calon perempuan Maureen Kyalya yang merupakan mantan penasihat Presiden Museveni dan maju dari jalur independen (IFES 2016:5). Dalam negara yang demokrasinya masih dalam tataran prosedural seperti Uganda, sulit bagi siapapun untuk menyaingi inkumben. Terlebih dengan tertutupnya hampir semua saluran-saluran kebebasan sipil. Pada Pemilu 2016 misalnya, seluruh media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, termasuk layanan pesan instan seperti Whatsapp diblokir oleh Pemerintah Uganda[3]. Pemerintah beralasan bahwa layanan media sosial dan pesan instan cenderung disalahgunakan untuk melakukan suap dan jual-beli suara.

Dengan konteks sosial-politik seperti yang diuraikan secara singkat diatas, hasil Pemilu Uganda 2016 hampir bisa ditebak. Yoweri Museveni kembali menjabat Presiden Uganda untuk masa lima tahun yang akan datang, dengan perolehan suara mencapai 60%, meskipun secara resmi belum ada pengumuman dari National Election Commision sebagai penyelenggara Pemilu 2016. Kondisi tersebut dapat dijelaskan dalam sebuah konsep sering disebut dengan fabricated election. Kondisi yang sering ditemukan pada negara-negara ‘setengah-demokrasi’, bahwa terdapat upaya-upaya terstruktur, masif, dan sistematis untuk menghasilkan seorang pemenang Pemilu dengan cara yang seolah-olah demokratis.

Catatan

International Foundation for Electoral Systems (IFES) .2016. Election in Uganda: 2016 General Elections. United States.

[1] Data dikutip dari https://freedomhouse.org/report/freedom-world/freedom-world-2016 diakses pada 18 Februari 2016 pukul 14:30 WIB.

[2] Data dikutip dari “An Unsettled Histoy of Uganda” http://www.our-africa.org/uganda/history-politics diakses pada 25 Februari 2016 pukul 20:58 WIB

[3] Morgan Winsor “Uganda Elections 2016 Social Media: Facebook, Twitter, Instagram, Whatsapp Blocked During Voting” dikutip dalam http://www.ibtimes.com/uganda-elections-2016-social-media-facebook-twitter-instagram-whatsapp-blocked-during-2312671 diakses pada 25 Februari 2016 pukul 21:13 WIB.

Recent Posts
Hubungi Kami

Silahkan isi pertanyaan, saran dan kritik anda, terima kasih.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

Call for Papers JPPPIUS-ELECTION-CEPP